Sisi Lain Young Engineer

Sisi Lain Young Engineer

MENGAGUMI RATUKU

Semenjak proses kehadiran Athar Martin, seorang pangeran yang tampan dan lucu melengkapi Kerajaan Kecil kami. Saya menjadi mengagumi Sang Ratu melebihi biasanya. Saya melihat sebuah perjuangan yang luar biasa, kesabaran yang luar biasa, semangat yang luar biasa, dan semua hal positif yang luar biasa dalam diri Sang Ratu. Ke-'luar biasa'-an yang mampu mendewasakan pola pikir dan perasaan saya. Suatu percikan yang membimbing saya mempersiapkan diri menjadi seorang Raja yang mampu mengayomi keluarga kelak. Setidaknya, terdapat tiga periode masa yang secara bertahap benar-benar mendewasakan pola pikir dan perasaan saya.

#Makanya, kurang-kurangi ngeyelnya, Gan
#Ngomong apa sii, Bro?
#Tuh kan, dikasi tau masi ngeyel
#Iya deh Iya
#Kok pakai "deh"?
#Iya Bro, nurut
#Gitu Donks




Masa-Masa Kehamilan

Sembilan bulan bukanlah waktu yang singkat yang harus dilalui oleh seorang istri dalam penantian buah hati. Tiga bulan pertama, istri memiliki beban berat dalam mengatur pola makan, pola istirahat, dan pola kerja. Di satu sisi, istri memikirkan anak yang ada di dalam perutnya, sehingga menjadi super hati-hati dalam mengkonsumsi makanan, menerapkan jadwal istirahat yang sesuai, dan tidak melakukan pekerjaan yang berat. Sebab, pada masa ini, janin masih dalam masa pertumbuhan dan sangat sensitif sekali. Di sisi lain, istri masih harus menunaikan tugasnya mengurus rumah tangga. Kelebihannya, Sang Ratu tidak pernah mengeluh dan tetap berusaha menyiasatinya. Saya mengagumi kasih sayangnya yang luar biasa terhadap keluarga. Melihat istri berusaha keras mengatur siasat, saya sedikit demi sedikit tergerak membantu pekerjaan rumah, walaupun hasil pekerjaan saya masih jauh level-nya jika dibandingkan dengan hasil pekerjaan istri. Bahkan terkadang, keterlibatan saya hanya menimbulkan kekesalan bagi Sang Ratu, karena membuat pekerjaan menjadi 'dua kali kerja', misalnya mencuci piring tidak bersih, membersihkan kamar mandi tetapi tidak ada perubahan, dan reputasi buruk saya lainnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. 

#Makin nyusahin elu mah, Gan
#Namanya juga usaha, Bro
#Makanya nyang ikhlas kalo bantuin istri
#Ikhlas kok
#Masa??, Kita lihat saja kelanjutannya, Gan
#Oookeeh



Tiga bulan kedua, kekuatan istri mulai memulih, mual dan pusing berkurang dari biasanya. Nafsu makan juga perlahan meningkat, namun bobot anak di dalam perut semakin bertambah. Istri dengan penuh semangat mulai memanfaatkan masa ini untuk mengisi nutrisi secara optimal. Konsumsi buah-buahan, sayuran, dan hidangan sehat lainnya. Kekhawatiran pada makanan luar, memunculkan semangat istri saya untuk mempelajari resep dan memasaknya sendiri. Istri bukanlah tipe orang yang suka merengek atau punya ngidam yang aneh. Jika menginginkan sesuatu, istri memasak sendiri tanpa menyusahkan suami. Saya mengagumi kemandiriannya yang luar biasa. Sebelumnya, saya merasa bersalah karena sering bersikap cuek. Percikan bagi diri saya untuk mencoba memberikan ketentraman padanya. Belajar menyuapi, belajar saling berbagi cerita dan rasa. 

abuathar
Sumber: https://www.go-dok.com/


Tiga bulan ketiga, anak mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil dari dalam perut, istri pun membalasnya dengan belaian lembut sambil seolah bercerita berdua. Keintiman ibu dan anak yang seolah saling mengerti satu sama lain. Senyuman demi senyuman yang berisikan kesenangan bercampur haru menghiasi hari-hari saya. Sang Ratu mulai menunjukkan sisi keibuannya lewat interaksi tersebut. Momen yang paling membuat saya terenyuh adalah percakapan mereka berdua di salah satu pagi. Sang Ratu membelai perutnya sambil berkata "Nak, kita buatin sarapan buat Abi yaa!" dan anak pun seolah mengerti membalas dengan gerakan kecil yang membuat Sang Ratu semakin bersemangat. Saya mengagumi kelembutannya yang luar biasa. Saya mulai membiasakan diri juga untuk memanjakan istri dengan memberikan pijatan pada saat-saat Sang Ratu terlihat lelah, dan memberikan belaian pada kepalanya saat sebelum tidur. 

#Gitu donk, jangan maen game online mulu
#Ga maen game online kok, Bro
#Terus kenapa masih pegang hape??
#Nonton youtube, Bro
#Sama aja, tarok hapenya, pegang tuh istri




Masa Melahirkan

abuathar
Sumber: http://nova.grid.id/
Perjuangan melahirkan menjadi cambukan yang paling keras bagi saya dalam instropeksi diri. Saya mendampingi istri saat proses melahirkan normal, dan langsung menyaksikan jalannya proses melahirkan. Betapa pertaruhan nyawa yang harus dilalui oleh istri untuk menghadirkan buah hati ke dunia. Rasa sakit sudah tidak digubris lagi, selama proses terlihat begitu beratnya perjuangan istri sampai akhirnya anak mengeluarkan suara tangisannya yang pertama. Saya mengagumi perjuangannya yang luar biasa. Proses ini mengajarkan saya bahwasanya tidak seharusnya saya melukai hati perempuan, terutama ibu dan istri, karena terlalu egois jika saya menambahkan lagi rasa sakit selain rasa sakit melahirkan ini.

#Kagak laki namanya, Gan. Kalo cuma bisa nyakitin istri dan emakk
#Iya, Bro,
#Iya apa?
#Kagak laki, Bro
#Kagak laki apa?
#Kalo cuma bisa nyakitin istri dan ibuk
#Nah, inget-inget tu




Masa Merawat Anak

Istri memilih untuk meninggalkan pekerjaannya dan fokus merawat anak di rumah. Pilihan yang mulia yang patut saya acungi jempol. Selain itu, Sang Ratu juga mengorbankan tenaganya walau masih belum pulih sempurna untuk mengurus anak. Anak bayi yang kerap menangis tanpa kenal waktu, baik siang maupun malam, membuat Sang Ratu harus mengorbankan waktu tidur dan istirahatnya. Tanpa mengeluh, setiap hari istri memulai membiasakan diri dengan rutinitas baru, yaitu memandikan, menyusui dan membereskan buang air anak. 

abuathar
Sumber http://doktersehat.com



Seiring bertambahnya umur anak, bersikap sabar dalam membimbing anak belajar tengkurap, berguling, merangkak dan berjalan. Membekali diri untuk memenuhi kebutuhan pangan anak secara bertahap dari ASI, susu botol, buah-buahan, bubur susu, biskuit, bubur tim, dan nasi. Mengesampingkan rasa lelah dalam menemani anak bermain. Mengajari dengan perlahan gerakan-gerakan dan kata-kata kepada anak. Saya mengagumi pengorbanannya yang luar biasa. Sudah seharusnya bagi saya untuk semakin kuat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri. Serta, mendorong saya untuk menyempatkan waktu untuk ikut terlibat dalam interaksi kasih sayang dalam keluarga kecil kami.

#Cari duit yang halal tapi ya, Gan
#Pasti Bro
#Biar apa?, Biar Baro....
#Kah
#Pinter, Biar Barokah



Mengagumi istri sendiri tidak ada salahnya kan yaa?. Kalau ditanya kuat mana istri atau suami. Jawabannya istri. Bisa begadang mengurus anak, bisa masak sambil gendong anak dan lain-lain. Asal jangan sakiti hatinya, karena itu dapat melemahkannya dalam sekejap. Ada sebuah Hadist Riwayat Tirmidzi menjelaskan "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya kepada istri-istrinya." Tugas suami, cari nafkah dan hadirlah sebagai imam yang baik dalam keluarga. Nasehat untuk diri sendiri sih ini.



Salam Keluarga Bahagia,
Abu Athar




JEJAK KERINDUAN DI SULAWESI UTARA

"Kita pe rindu pa sulawesi nyanda mo abis-abis" ("Rinduku pada sulawesi tidak akan pernah habis"). Perjalanan pertama kali ke Pulau Sulawesi menjadi salah satu kenangan yang paling saya rindukan. Mandat perusahaan menjadi perantara takdir yang mempertemukan saya dengan Sulawesi Utara. Berbekal tiket pesawat Garuda Indonesia yang diberikan perusahaan, saya berhasil menginjakkan kaki di kota Manado. Saat berada di dalam pesawat, saya melihat hamparan hijau dataran tingginya dan hamparan biru lautnya, sungguh indah sekali. Saat mendarat di bandara Sam Ratulangi - Manado, satu kata yang menjadi kesan pertama saya adalah kesejukan, karena udara sekeliling memang terasa sangat segar dan rileks. Merasakan semilir anginnya kota Manado sambil menikmati pemandangan sekitar, di mana di setiap sudutnya terdapat wanita dan pria dengan perawakan tinggi dan putih. Manado memang terkenal sebagai salah satu surganya Indonesia, lokasi yang menyimpan orang-orang yang memiiki kecantikan dan kegantengan yang nyaris sempurna. Very recommended untuk Agan yang baru putus sama mantan, dijamin bakalan cepat move on. Teeett, teeeett, kenikmatan saya seketika buyar, untaian tugas telah memanggil melalui klakson mobil jemputan. 

abuathar
Gambar: Doc. Pribadi
Pembagian nasib (tiket pesawat-red)
Saya dan tim melanjutkan perjalanan menuju kota Bitung, tempat dimana tugas harus ditunaikan. Sepanjang perjalanan terlihat tatanan kota yang bersih dan hijau. Dari kejauhan terlihat dataran tinggi yang rimbun dan memesona. Sepanjang perjalanan saya menggali informasi tentang tempat wisata dan kuliner khas sulawesi melalui 'Bapak Penjemput'.  Saya saling lirik dengan teman saya, kami kompak membuat daftar tempat dan makanan yang harus diwujudkan pada saat weekend. Daftar tempat dan makanan ini menjadi motivasi menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan berkualitas. Maklumlah, kalau para bujangan mulai mencari kesenangan, kalau sudah ada maunya, batu karang pun dihadang.  Monggo disimak keseruannya!

Bubur Manado

Tidak butuh waktu berlama-lama, berkat bujukan maut salah seorang teman saya, di hari kedua kami berhasil mencicipi 'Bubur Manado'. Menurut saya, makanan ini cukup sehat dikonsumsi karena mengandung banyak sayuran hijau seperti kangkung, bayam dan kacang panjang. Cocok untuk dikonsumsi oleh orang yang takut kolesterol tinggi. Makanan khas Minahasa ini memiliki aroma yang wangi, tetapi hati-hati, jangan langsung disantap, karena saat dihidangkan, bubur manado masih dalam kondisi panas. Aroma wanginya berasal dari wangi daun kemangi. Selain itu, ada pipilan jagung yang menjadi pengeyang perut. Bagi agan yang terbiasa makan dikit, lebih baik minta dikurangi sedikit porsinya, karena bubur manado rata-rata dihidangkan dalam porsi jumbo.

abuathar
Gambar: Doc. Pribadi
Bubur Manado
Selain bubur manado, kami juga menikmati nasi kuning, aneka ikan dan kue klapertaart. Nasi kuningnya berbeda dengan daerah lain, karena memiliki ciri khas tambahan irisan ikan cakalang dan daging sapi. Setiap malam, kami menikmati aneka olahan ikan. Menu ikan favorit saya adalah ikan cakalang yang diasapi (fufu) dan rica-rica. Selain itu, di hari-hari terakhir menjelang kepulangan kembali ke Jakarta, kami sempat mencicipi kue klapertaart, yaitu kue yang gurih dan lezat dengan dominan rasa kelapanya.

Pulau Bunaken

Belum afdol kalau ke Sulawesi Utara tidak singgah ke Bunaken. Yo ai, saya tidak menyia-nyiakan momen tersebut, di salah satu weekend, saya berhasil menjajaki Pulau Bunaken. Dari pelabuhan Manado ke Pulau Bunaken membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam enam puluh menit dengan speedboat. Jika Agan ingin berkunjung ke sini, saya sarankan rame-rame agar bisa share cost, karena biayanya lumayan mahal.

Awalnya berkeliling dengan kapal yang lantainya kaca untuk melihat pemandangan bawah laut yang indah. Ikan-ikannya berenang berkelompok seolah menggoda untuk turun. Saya dan teman-teman tidak berlama-lama di sesi ini, dua puluh menit sebelum waktu habis, kami request agar langsung menyelam. Kapal kemudian diarahkan ke tepian menuju tempat penyewaan pakaian menyelam. 

Kemudian, saya mencoba menjalin silaturahmi dengan ikan-ikan dan terumbu karang. Ikan-ikan di Bunaken doyan cemilan, jadi mudah sekali mengajak ikan-ikan untuk selfie bareng, cukup dengan memberi roti atau kue, langsung disamperin. Pemandangan bawah laut yang begitu memikat membuat saya lupa diri, untung saja saya membawa tour guide yang selalu mengingatkan batasan waktu agar pulangnya tidak kemalaman. Untuk hasil photo yang memuaskan, silahkan membawa kamera bawah laut ya. 

abuatharabuathar
Gambar: Doc. Pribadi
Bunaken


 Waruga Sawangan

Perjalanan masih terus berlanjut, saya juga sempat mengunjungi Waruga Sawangan yang terletak di Minahasa Utara. Waruga ini sejenis pemakaman khas budaya Minahasa. Bentuknya secara umum terbagi dua bagian, bagian atas yaitu berbentuk segitiga yang berfungsi sebagai penutup dan bagian bawah berbentuk persegi panjang yang di dalamnya terdapat ruang. Konon katanya, waruga ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang berstatus sosial tinggi. Untung saya pergi ke waruga pada siang hari, sehingga suasananya tidak begitu mencekam ala 'uka-uka'. Tetapi tetap saja tidak berani berlama-lama di sana.

abuathar
Gambar: Doc. Pribadi
Waruga Sawangan Minahasa Utara

Bukit Kasih

Sulawesi Utara terkenal sebagai provinsi yang memiliki toleransi beragama yang tinggi. "Torang samua basudara" ("Kita semua bersaudara") merupakan slogan yang dimiliki oleh warga Sulawesi Utara. Tugu yang terletak di pintu masuk Bukit Kasih mengukirkan penggalan ayat-ayat dari kitab suci beberapa agama di setiap sisi tugu. Di Bukit Kasih terdapat lima rumah ibadah untuk masing-masing agama, yaitu Katolik, Protestan, Islam, Budha dan Hindu. 

Saya sarankan cek fisik terlebih dahulu sebelum mengitari Bukit Kasih, karena untuk menikmati kawasan Bukit Kasih ini, terdapat tantangan medan pendakian maupun turunan yang cukup panjang dan berliku. Saya agak merasa malu dengan warga sekitar yang berjualan di sana, sebagian besar ibu-ibu, katanya bisa turun naik sekitar tiga kali atau lebih dalam sehari. Saya baru sekali menaiki bukit sudah ngos-ngosan, belum lagi memikirkan turunnya. Sesampai di puncak bukit, saya harus reload tenaga dulu dengan selonjoran, minum dan makan cemilan selama beberapa menit.

Gambar: Doc. Pribadi
Bukit Kasih Manado


Seru kan, Gan?. Memang kerinduan kadang melanda dan memanggil untuk kembali ke Sulawesi Utara. Kota yang banyak wisatanya, indah, damai dan ramah untuk dikunjungi. Saya selalu mengecek harga tiket pesawat dengan praktis dan gampang melalui Skyscanner dan berharap ada waktu dan harga yang tepat menghampiri. Sehingga, saya bisa kembali berkunjung ke Manado. Atas saran dari teman saya, saya mengaktifkan fitur "Dapatkan Info Harga" di Skyscanner, sehingga setiap ada update harga ke daerah tujuan, saya akan mendapatkan email notifikasi dari Skyscanner. 

abuathar
Gambar: Skyscanner.co.id
Pencarian Tiket Pesawat


Salam Traveller,
Abu Athar

"Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner"

#JelajahNusantaraSkyscanner

TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW"

Dalam pembentukan kecerdasan dan karakter anak, orangtua tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orangtua memiliki keharusan dalam mengevaluasi dan melengkapi pendidikan anaknya. Jika di sekolah, terdapat pelajaran yang dinilai kurang tepat, diberikan oleh guru kepada anak, maka orangtua dapat menghubungi pihak sekolah untuk mendapatkan klarifikasi, memberi masukan dan mencari solusi. Jika pemahaman atau persepsi anak kurang sesuai dengan yang diterangkan guru di sekolah, maka orangtua harus meluruskan pemahaman anaknya. Orangtua juga harus melengkapi pelajaran bagi anaknya, jika mungkin terdapat pelajaran yang tidak diberikan di sekolah untuk memenuhi tiga unsur kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual/IQ (Intelligence Quotient), Kecerdasan Emosional/EQ (Emotional Quotient), dan Kecerdasan Spiritual/SQ (Spritual Quotient). 


abuathar.com
Gambar: https://afifbenzumaen.com
Perkembangan teknologi informasi juga merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua saat ini, akses internet, media sosial dan game online yang begitu mudah didapatkan dapat mempengaruhi kecerdasan dan karakter anak. Ketegasan orangtua dalam membatasi dan mengarahkan anak dalam mengakses internet, media sosial dan game online sangat diperlukan, karena sudah banyak sekali contoh jeratan negatif dari perkembangan teknologi informasi tersebut. Jangankan anak pada usia pendidikan. Orang dewasa pun, secara pemikiran bisa ikut terbawa dalam pengaruh negatifnya.

Menurut penulis, ada empat sisi peranan orangtua dalam membentuk kecerdasan dan karakter anak. Keempat sisi ini diajarkan secara bersamaan kepada anak dalam usia pendidikannya. Konsepnya "mengalir dan terbiasa". Mengalir dalam arti, cara belajarnya dimasukkan ke dalam aktivitas sehari-hari sehingga dapat dijalankan tanpa beban. Terbiasa dalam arti, secara tidak sadar, pelajaran yang diberikan kepada anak melekat ke dalam dirinya melalui pola pikir, ucapan dan tindakannya.

1. Sisi Takwa

Para Founding Father dalam merumuskan dasar negara, Pancasila, merumuskan prinsip "Ketuhanan yang Maha Esa" sebagai sila pertama. Pentingnya pendidikan agama sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara menjadi cerminan harapan para Bapak Bangsa. Pendidikan agama dapat membentuk ketakwaan dalam diri. Sisi ketakwaan memiliki kandungan yang seluruhnya positif dalam membangun bangsa dan negara, karena penekanannya adalah wujud tanggung jawab seorang manusia kepada Tuhannya. Peranan keluarga dalam membentuk ketakwaan dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan agama secara langsung atau mendampingi anak mengikuti pendidikan agama di lingkungannya, seperti kegiatan mengaji di masjid (Islam), kebaktian di gereja (Kristiani), belajar agama di pura (Hindu), wihara (Budha) dan klenteng (Konghucu). Selain itu, orangtua memiliki kewajiban memberikan teladan kepada anak dalam bentuk perbuatan di kehidupan sehari-hari. 


abuathar.com
Gambar: http://www.republika.co.id

2. Sisi "Indonesia"

Dalam dunia internasional dikenal istilah nasionalisme, yaitu sebuah sikap loyalitas dalam mempertahankan kedaulatan suatu negara. Sebagai bangsa Indonesia, rasa cinta terhadap tanah air dibutuhkan untuk merawat dan melindungi negara Indonesia dari segala bahaya yang mengancam. Peran orangtua dalam menjadikan anaknya cinta terhadap tanah air dapat dilakukan dengan memperkenalkan budaya dan sejarah Indonesia. Perkembangan teknologi informasi dapat diambil sisi positifnya dalam hal ini. Di internet tersedia banyak sekali artikel, poto dan video tentang budaya dan sejarah Indonesia. Atau jika ingin mengurangi ketergantungan anak pada gadget, orangtua dapat mengajak anak berjalan-jalan ke toko buku, museum, dan tempat wisata budaya atau sejarah.


abuathar.com
Sumber: https://satelitpost.com

3. Sisi Sosial

Tantangan terberat lainnya di era kemajuan teknologi dan informasi ini, konsep manusia sebagai makhluk sosial mulai tergerus dan berubah menjadi konsep manusia individualis. Orang-orang cenderung suka berteman di dunia maya dibandingkan berusaha mengenali tetangga sebelah rumahnya. Peranan orangtua dapat dilakukan dengan contoh perbuatan sederhana, namun memiliki efek yang sangat kuat bagi anak. Sebagai contohnya mengajari anak bersilaturahmi ke tetangga, membuka diri untuk menjadikan rumah sebagai tempat bermain anak dan teman-temannya, dan mengajak anak untuk ikut kegiatan sosial di lingkungan. Kegiatan sosial yang sederhana saja seperti gotong royong dan bakti sosial.


abuathar.com
Sumber: https://kompas.id

4. Sisi Berprestasi

Orangtua pasti senang jika anaknya memiliki prestasi yang cemerlang. Namun, sebenarnya orangtua memiliki peranan dalam mendorong anak berprestasi sesuai minat dan bakat keilmuan dan keterampilannya. Orangtua harus berkomunikasi dengan anak perihal minat dan bakatnya, kemudian memberikan dukungan moril dan fasilitas kepada anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Dorongan motivasi juga harus diberikan kepada anak dengan kelembutan kata untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.


abuathar.com
Sumber: http://karyakisah.blogspot.com

Bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga memang penting. Tapi, peranan orangtua jika dibandingkan dengan guru di sekolah bisa jadi lebih banyak porsinya dalam menentukan kecerdasan dan karakter anak. Untuk itu, orangtua harus menangkap dan menjawab tantangan peranan ini. Tidak ada salahnya meluangkan perhatian dan memberikan pendampingan kepada anak, sebelum dan sepulang kerja, di sela-sela waktu istirahat atau di hari libur. 

Beberapa sekolah juga telah membuka peluang bagi orangtua untuk mendampingi anak dalam penyelenggaraan pendidikan, menurut informasi yang saya dapatkan dari Sahabat Keluarga - Kemendibud, di SMA N 4 Pekanbaru, Provinsi Riau telah dibuat konsep mengundang orangtua untuk ikut dalam kegiatan upacara bendera dan menyaksikan penampilan bakat anak-anaknya. Suatu hal yang terlihat sederhana, namun memiliki efek yang sangat besar dalam perkembangan kecerdasan dan karakter anak. Salut.

#sahabatkeluarga
#CerdasBerkarakter

Salam Pendidikan,
Abu Athar


TULISAN PERTAMA YANG MEMBERI MANFAAT

Awalnya, saya menulis hanya karena rasa penasaran saja. Selanjutnya, mengalir begitu saja. Yang pertama kali saya tulis adalah puisi, karena menurut saya puisi adalah cara yang paling lembut untuk menuangkan perasaan. Masa SMA adalah masa produktif saya menulis sajak atau puisi. Kemudian, tuntutan tugas sekolah mengantarkan saya menulis cerpen dan keseruannya membawa saya terus membuat beberapa cerpen hingga saat ini. Seiring dengan perubahan pola pikir di umur yang labil, saya juga mulai menulis tulisan bebas yang merupakan curahan pemikiran dan perasaan saya.

#Udah tua sekarang masih labil juga gag, Gan?
#Gag donks, Bro
#SYUKURLAH KALO TAU DIRI
#Ga usah nge-gass juga donk,,
#Kagak, ini nyari sendal, kemana yak, mau beli odol padahal

Di rumah, saya juga disuguhkan buku-buku sajak Kahlil Gibran yang merupakan koleksi abang kedua saya. Terdapat juga beberapa novel warisan yang kertasnya lumayan lusuh dan berdebu, sebagian besar karya Sidney Sheldon dan John Grisham. Meskipun buku-buku tersebut berat untuk dicerna dan tidak sepenuhnya saya pahami, saya tetap menikmati halaman demi halaman sampai tamat. Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung yang menjadi referensi saya dalam menulis.

abuathar.com
Sumber: Tokopedia.com

Dulunya, sebelum mengenal blogger atau blogspot, saya menulis di buku khusus dan di kertas orat-oret. Kemudian buku dan kertas itu saya simpan di dalam lemari baju di bawah tumpukan baju. Lokasi favorit saya kalau nyimpen barang-barang kesayangan. Setelah mengenal blogger, semuanya sekarang saya tuangkan langsung ke blog. Semakin kesini-sini, saya semakin tidak produktif menulis. Penyebabnya mungkin faktor kesibukan. Namun, tahun ini saya mulai memacu lagi semangat menulis saya dengan komitmen minimal satu postingan setiap minggu.

#Widih,, buktikan yaa, Gan
#dioptimalkan bro
#Asal jangan satu paragraf trus molor aja
#Gag donks, Bro
#Gag yakin dongs
#Yawdah donks, bodo amat

Sebaik-baik penulis adalah yang tulisannya memberi manfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dan pastinya, akan menjadi suatu kepuasan tersendiri. Berikut flashback saya mengenang tulisan pertama saya yang memberikan manfaat bagi diri saya sendiri atau orang lain.

abuathar.com
Sumber: http://www.34thparallel.net


1. Puisi Pertama yang Memberi Manfaat

Dari sekian banyak puisi yang saya tulis, kumpulan puisi Permata di Sekitarku menurut saya yang pertama kali memberi manfaat, karena kumpulan puisi ini berhasil menginspirasi dan meningkatkan kepercayaan diri orang lain (keponakan dan teman saya) untuk menjadi penulis puisi. Di kumpulan puisi ini cukup intens pembahasan mengenai kehangatan keluarga, ketulusan hati seorang ibu, perjuangan seorang ayah, kepahlawanan guru, curahan untuk pujaan hati dan persahabatan. Puisi ini tercipta saat tinggal terpisah dari keluarga, dan terkekang di lingkungan yang minim akan kesempatan sosialisasi.

#Saat terpuruk banget ya, Gan?
#Ho'oh, Bro,, rasanya sepi bingit
#Serasa tenggelem di comberan kental gitu yah, Gan?
#Ya, ngga gitu juga kali, broh

2. Cerpen Pertama yang Memberi Manfaat

Selain menulis, saya memiliki hobi bermain gitar. Perburuan mencari kord gitar merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Setiap bulan, saya mengobok-obok tumpukan majalah kord gitar untuk dapat memilih satu majalah yang memuat lagu-lagu hits. Maklum, saat itu harganya cukup mahal bagi pelajar SMA seperti saya. Internet juga belum merajalela seperti sekarang, sehingga saya yang bukanlah seorang hartawan ini, hanya sanggup membeli satu majalah setiap bulannya. Pada majalah gitar biasanya terdapat rubrik cerpen. Awalnya, saya iseng mencoba mengirimkan salah satu cerpen saya ke majalah kord gitar tersebut. Sebulan kemudian, pihak redaksi majalah menelpon saya dan memberikan informasi bahwa cerpen saya yang berjudul Kelapa Muda dimuat di majalah tersebut dan saya berhak mendapatkan komisi. Menurut saya, ini adalah cerpen pertama yang memberi manfaat karena komisi yang didapatkan dari cerpen tersebut digunakan untuk membeli alat tulis dan buku penunjang pelajaran saya dan adik-adik saya.

#Bukunya dibayar kan, Gan?
#Bayar laa
#Kirain pura-pura baca teru melipir
#Itu mah elu kali

3. Postingan Blog Pertama yang Memberi Manfaat

Postingan blog pertama yang memberikan manfaat adalah postingan pertama saya di blog ini, yaitu Kompak Bodoh. Postingan ini dinyatakan ditulis Minggu, 06 November 2011. Sebenarnya, tanggal tersebut hanyalah tanggal pemindahan tulisan ini dari blog lama ke blog baru. Tulisan ini sudah tercipta dari tahun 2008 dan sudah ditulis di blog pribadi yang lama, tumblr pribadi, dan blog angkatan (ketiga blog ini sudah tidak diketahui kelanjutan nasibnya). Postingan ini bagi saya sangat berkesan, karena memberikan kebanggaan dan dorongan semangat kepada teman-teman angkatan saya saat itu. Titik waktu yang menjadi tonggak sejarah terciptanya rasa solidaritas di angkatan kami. Walaupun, kekompakan kami pada akhirnya dinilai suatu  kebodohan oleh senior.

Mungkin Agan punya pengalaman sendiri dalam dunia kepenulisan. Silahkan saja saya diundang membaca ke blognya untuk berbagi pengalaman, tapi by email saja yah. 

abuathar.com
Sumber: https://www.orlandocontentmarketing.com

Salam Pena,
Abu Athar

LOYALITAS DAN PULANG TEPAT WAKTU

Paradigma yang beredar di kalangan pekerja saat ini menyatakan bahwa loyalitas diukur dari lama waktu yang dihabiskan untuk menunaikan pekerjaan. Sehingga, semakin telat karyawan pulang, maka dianggap semakin loyal. Memang, suatu kantor atau unit kerja memiliki budaya kerja masing-masing dan tidak dapat disalahkan jika paradigma itu yang digunakan. Namun, jika boleh berpendapat, tentunya hal itu kurang tepat. Menurut saya, loyalitas dan pulang tepat waktu, kedua-duanya merupakan indikator positif. Sebelumnya beropini lebih jauh, saya ingin mempelajari definisi loyalitas terlebih dahulu.

#Berarti kalo ga pulang-pulang, loyal banget donk, Gan?
#Kalo ga pulang-pulang berarti Bang Toyib bro
#Bisa ae si Agan mah

Secara kata, loyalitas berarti kepatuhan atau kesetiaan (sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia); dan secara lengkap, loyalitas diartikan mutu dari tindakan memberi atau menunjukkan dukungan dan kepatuhan yang teguh dan konstan kepada seseorang atau institusi. (sumber: Universitas Ciputra Enterpreneurship Online).

abuathar.com
Gambar: http://segi2.com
Mmmmh, dari definisinya saya belum menemukan korelasi antara loyalitas dan ukuran waktu kerja. Lebih lanjut saya mau memaparkan mengenai pulang tepat waktu. Pulang tepat waktu, menurut saya adalah hal positif yang merupakan cerminan kedisiplinan dan kemampuan mengelola waktu. Ada banyak hal yang didapat dari pulang tepat waktu antara lain:

1. Memberikan tubuh dan pikiran waktu untuk beristirahat
Dengan pulang tepat waktu berarti kesempatan relaksasi terhadap otot dan otak sesuai porsinya menjadi teratur. Dalam hal ini, asumsi faktor perjalanan pulang kerja diabaikan. Otot dan otak memiliki batasan dalam melakukan aktivitas, oleh karena itu jika menggunakan otot dan otak di luar waktu optimalnya, akan menyebabkan penurunan tingkat produktivitas, atau bahkan dapat menyebabkan stres. Harapan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, malah berdampak negatif pada tubuh dan pikiran, seperti sakit atau setres. Jangan sampai lah yaa!. Lebih baik membuat skala prioritas dan perencanaan yang lebih matang.

#Iya, Gan, tujuan kerja nyari duit, bukan nyari sakit atau setress
#Stres, bro bukan setres
#Iya, ntu maksudnya, setres,, eh sentres,, mm eh,, stres
#Belibet bgt yaa bro
#Maklum bro, abis makan emping
#Hellow, Apa hubungannya???

2. Memberikan lebih banyak waktu untuk spritual dan sosial
Dalam kehidupan, bekerja hanyalah bagian dari ikhtiar, sehingga tidak elok jika dilakukan secara berlebihan dengan mengabaikan sisi spritual. Sisi spritual yang dimaksud adalah memberi ruang beribadah kepada Sang Pencipta. Sebagai contoh, jika pulang tepat waktu pada sore hari, mungkin di sela waktu magrib menjelang isya, seseorang dapat mengikuti tadarus Quran atau majelis ilmu. Bandingkan dengan pulang larut malam, sesampainya rumah langsung tidur.
Selain itu, sebagai makhluk sosial, bersilaturahmi dengan tetangga atau mengikuti kegiatan warga sangat dibutuhkan, mengingat hubungan baik sesama manusia dapat mengantarkan kenyamanan dan ketenangan jiwa bagi tiap-tiap orang yang berada dalam satu lingkungan. Bayangkan, jika seseorang tidak pernah bersilaturahmi atau mengikuti kegiatan warga, hanya sibuk bekerja terus menerus, saat membutuhkan pertolongan tetangga akan terasa canggung.

#Setubuh, Gan, jangan lupa ibadah, 
#Iya, bro,, bekerja itu kan selingan menunggu waktu sholat
#Yang Sunah juga dikejar, Gan, jangan wajib doank, Oke?
#Ok, Bro, Manut.

Sekarang, sebelum saya mengarah pada opini, saya ingin mempertanyakan hal berikut: 
Apakah bentuk loyalitas yang dimaksud harus mengorbankan waktu istirahat bagi tubuh dan pikiran?
Apakah bentuk loyalitas yang dimaksud harus mengabaikan sisi spritual dan sosial yang merupakan kewajiban dan bagian hidup dari seseorang?

abuathar.com
Gambar: http://www.pontianakpost.co.id
Tentu tidak kan?. Loyalitas jika menggunakan referensi di atas, hendaknya dapat dicerminkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mematuhi peraturan perusahaan
Kepatuhan terhadap peraturan perusahaan adalah hal yang pokok jika ingin bertahan dalam pekerjaan. Loyalitas yang sesungguhnya, paling utama diukur dari hal ini. Peraturan perusahan cukup detail mengatur batasan-batasan yang harus ditaati oleh karyawan, bahkan sudah menerapkan sanksi sesuai dengan tingkatan pelanggarannya.

2. Mematuhi instruksi atasan sesuai dengan tujuan perusahaan
Sebagai bawahan, mengikuti arahan atasan adalah hal yang pokok kedua, karena seorang pemimpin pasti memiliki wawasan dan cara pandang yang lebih baik. Selama instruksi atasan masih sesuai dengan tujuan perusahaan, tidak ada salahnya mengikutinya. Selain itu, jika menemukan ketidaksesuaian atau ketidakcocokan, memberi pendapat adalah hal yang sangat tidak dilarang. Namun, karyawan perlu mengetahui bahwasanya cara penyampaian pendapat kepada atasan tentu tidak sama terhadap teman sebaya, butuh pengenalan karakter atasan terlebih dahulu.

3. Bertanggung jawab atas tugas perusahaan
Mencintai pekerjaan dan selalu memberikan hasil yang optimal sesuai dengan target perusahaan merupakan bentuk kesetiaan yang sangat terukur. Untuk itu, seharusnya sebuah perusahaan memandang bentuk tanggung jawab tersebut sebagai loyalitas yang hakiki.

Lantas, apakah selalu pulang tepat waktu itu menandakan ketidak-loyalan seseorang?. Pemikiran ini, sekali lagi menurut saya agak kurang tepat. Orang yang selalu pulang telat hingga larut malam, kemudian otomatis dikatakan loyal. Nanti dulu donks!, mari dilihat dulu, apakah dia sudah mematuhi peraturan perusahaan?. Apakah sudah mengikuti instruksi atasan dengan baik?. Dan apakah tanggungjawabnya sudah dikerjakan dengan optimal?. Jika tidak, belumlah bisa dikatakan loyal.

Mungkin, mungkin nih yaa, dalam contoh kasus, perusahaan meminta karyawannya lembur atau pulang larut malam karena ada deadline yang harus segera diselesaikan. Dalam hal ini, tentunya kesepakatan kedua pihak dan skala prioritas menjadi penentu. Terkadang, karyawan juga harus mengerti dan mengorbankan sedikit waktunya untuk menyelamatkan perusahaan dalam hal ini, jangan langsung menolak tanpa melihat efek domino-nya. Dan atasan pun harus dengan kerendahan hati dan sikap fair untuk meminta hal tersebut. Jika ada nilai yang harus ditunaikan, maka tunaikanlah sesuai aturan. Bukan dengan cara otoriter, pokok'e harus lembur, kalo ga lembur dianggap ga loyal. 

Menurut saya, dalam contoh kasus ini, seharusnya setelah suasana terpenuhi dan kembali aman terkendali, harus dilakukan evaluasi supaya deadline mepet seperti itu tidak sering terjadi. Sebelum itu, berikanlah apresiasi kepada segenap pihak atas pengorbanan waktunya membantu menyelesaikan tugas perusahaan, agar meningkatkan kembali semangat, kekompakan dan rasa cinta terhadap perusahaan.
abuathar.com
Gambar: https://ndeso94.com

Berbeda pendapat adalah hal yang lumrah, tidak tertutup kemungkinan, di luar sana masih banyak Agan-Agan yang berbeda hasil pemikiran dengan saya. Untuk memahami perbedaan ini, tentunya dapat didiskusikan untuk dicari sisi positifnya masing-masing.

Salam Buruh,
Abu Athar

Sumber Bacaan:






Back To Top