Mohammad Hatta: Pemimpin Sederhana - Sisi Lain Young Engineer Mohammad Hatta: Pemimpin Sederhana

Mohammad Hatta: Pemimpin Sederhana



Tuhan terlalu cepat semua

Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta
Jujur, lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas, jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang sepertimu

Pertama kali mendengar lagu Iwan Fals ini, langsung terbayangkan pelajaran sejarah mengenai Bung Hatta. Liriknya tepat sasaran sekali. Ya, Drs. Mohammad Hatta, Pahlawan Proklamator Indonesia. Sosoknya dikenal rendah hati dan sederhana. Dalam hal pengorbanan demi kepentingan bangsa, tokoh kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 ini pernah bersumpah untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Ucapannya ini dibuktikannya, Bung Hatta menikah setelah tiga bulan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Beliau menikah pada usia 43 tahun dengan Ibu Rahmi yang berusia 19 tahun, dengan perantara perkenalan mereka adalah Bung Karno. Mas kawin yang diberikan oleh Bung Hatta kepada Ibu Rahmi saat itu hanya sebuah buku "Alam Pikiran Yunani" karangan beliau sendiri sewaktu ditahan di Banda Neira tahun 1930-an.

Sumber Gambar: socialhistory.org
Bung Hatta tidak penah memanfaatkan ketokohan dan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Kesederhanaan sikap tokoh yang terlahir dengan nama Mohammad Athar ini dapat diambil dari kisah hidupnya. Salah satunya yaitu mengenai cerita Mesin Jahit di rumahnya. Pada tahun 1950, dalam menghadapi krisis ekonomi, pemerintahan menerapkan kebijakan untuk pemotongan nilai mata uang dari 100 menjadi 1. Hal ini pun berimbas ke kehidupan rumah tangga Bung Hatta, sewaktu pulang ke rumahnya, Bung Hatta yang waktu itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden ditanya oleh istrinya mengenai kebijakan tersebut. Hal itu ditanyakan oleh Bu Rahmi karena dengan adanya kebijakan tersebut, beliau tidak bisa membeli mesin jahit yang sudah lama diimpikannya dan beliau telah menabung sekian lama untuk mewujudkan mimpinya itu. Bung Hatta dengan bijak menjawab keresahan hati istrinya dan berkata pada sang istri "Sungguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?”. Cerita ini sudah cukup menyentuh perasaan saya. Kesusahan harta tidak mampu mengoyahkan keteguhan hatinya untuk berjuang demi rakyat. 

Bentuk pengorbanan seperti ini sudah pasti akan jarang ditemukan di pemerintahan saat ini. Alih-alih mau merugi untuk rakyat, lihatlah sekarang, para pemerintah berlomba-lomba memfasilitasi diri sendiri dengan kebijakan-kebijakannya sendiri dan dengan memanfaatkan dana dari rakyat. Baik dalam bentuk tunjangan ini-itu, kendaraan, rumah dan lain-lain. Memanfaatkan jabatan kekuasaan ke relasi-relasi untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

Cerita lain adalah cerita sepatu Bally yang pernah diimpikan oleh Bung Hatta semasa hidupnya. Sepatu Bally sangat terkenal pada masa tahun 1950-an. Beliau menggunting potongan iklan sepatu Bally itu dan menyimpannya di buku hariannya karena belum mampu untuk membelinya. Bahkan, keinginan beliau ini hanya menjadi impian saja sampai akhir hayatnya. Keinginan beliau ini baru diketahui setelah ditemukan sebuah guntingan secarik kertas berisi gambar potongan sepatu Bally dalam buku hariannya oleh putri beliau setelah Bung Hatta wafat. Uang yang ditabung beliau tidak pernah cukup untuk membeli sepatu yang diinginkannya. Beliau lebih mementingkan uang itu bagi kebutuhan rumah tangga dan membantu kerabat dan saudara yang lebih membutuhkan bantuan daripada hanya sekedar memenuhi keinginan pribadi, begitulah prinsip hidup beliau. Kalau beliau mau tentu dengan sangat mudah bisa mendapatkan sepatu Bally tersebut dengan kekuasaan dan relasi yang dimilikinya. Hidup dengan kekurangan dan sederhana baginya lebih baik daripada menghinakan diri seperti memanfaatkan kekuasaaan dan pengaruh untuk kepentingan pribadi.
Sumber Gambar: www.tandapagar.com
Jauh sekali dengan sikap pejabat sekarang. Jabatan kekuasaan yang didapat dari hasil kepercayaan rakyat malah disalahgunakan untuk memainkan drama ‘Papa Minta Saham’. Senggol sana senggol sini bukan membawa kepentingan rakyat, tetapi membawa kepentingan partai, golongan dan pribadi. Kalau dibandingkan perjuangannya dengan Bung Hatta dalam memerdekakan dan membangun Indonesia, jauh sekali.

Bung Hatta berdampingan dengan Bung Karno dikenal sebagai Dwi Tunggal. Bung Hatta bersama dengan Bung Karno, berjuang untuk memerdekakan Indonesia dan membangun Indonesia sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden di awal kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta banyak memberikan andilnya bagi Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi karena sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya di Belanda sebagai mahasiswa Ilmu Ekonomi Perdagangan. Salah satunya yang paling dikenal dan masih terasa di masyarakat, sekolah dan kantor yaitu konsep Koperasi, bahkan atas jasanya inilah beliau dijuluki Bapak Koperasi Indonesia.
Sumber Gambar: www.kaskus.co.id
Dalam bersikap, Bung Hatta memang memiliki sedikit perbedaan dengan Bung Karno. Bung Hatta sosoknya lebih kalem, tidak banyak bicara, berpendirian teguh dan rendah hati. Cara berpidatonya datar, namun tegas, dan terstruktur. Sedangkan Bung Karno, sebagaimana yang pernah saya bahas di blog sebelumnya, adalah sosok yang berapi-api, flamboyan, humoris dan sang orator ulung.

Bung Hatta adalah seorang administrator yang ahli dalam penyelenggaraan negara sedangkan Bung Karno adalah seorang pemimpin yang pandai menarik simpati dan menggerakkan massa untuk tujuan negara. Bung Hatta telah berpikir maju untuk segera mengakhiri Revolusi menuju ke arah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Sedangkan Bung Karno ingin melanggengkan dominasinya meneruskan perjuangan revolusi. Tetapi dalam perjalannya, perbedaan inilah yang membuat keduanya seimbang dalam mencapai tujuan yang sama yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Dalam hal pendapat, keduanya juga memiliki cara pandang yang berbeda. Namun keduanya mampu menepikan ego masing-masing demi kepeningan rakyat. 

Puncak perbedaan yang mencuat ke publik adalah pertentangan pada sidang kabinet mengenai pencalonan KASAD baru, yang mengakibatkan jatuhnya kabinet Ali Sastroamidjojo. Bung Hatta menulis sebuah surat kepada Ketua Parlemen pada 20 Juli 1956, dengan isi surat sebagai berikut, “Setelah DPR yang dipilih oleh rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Selanjutnya Pertentangan dua sahabat dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II mengalami puncaknya yaitu dengan pengunduran diri Bung Hatta sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956. Pengunduran diri Bung Hatta dinilai merupakan akumulasi dari beberapa konflik yang terjadi antara Bung Hatta dengan Bung karno yang tidak bisa diakhiri. 

Dalam konteks demokrasi yang berlandaskan kepada sosialisme. Bung Hatta terlihat agak kecewa dengan keputusan yang diambil Bung Karno yang diindikasikan tergiur oleh kekuasaan, yaitu dengan menerapkan Demokrasi Terpimpin yang cenderung mengarah ke pemerintahan otoriter yang memangkas kedaulatan rakyat di dalam demokrasi. Bung Karno sudah berusaha membujuk Bung Hatta untuk mengubah pendirian nya, namun tidak berhasil, bahkan istrinya sendiri tidak mampu meluruhkan keras nya hati Bung Hatta seorang yang sangat teguh pada pendiriannya.

Setelah pensiun, keuangan Bung Hatta menjadi sangat sulit, karena uang pensiunnya sangat kecil. Pernah putri beliau menyarankan agar menempatkan sebuah bokor untuk memasukkan uang bagi tamu yang datang berkunjung ke rumah. Bung Hatta tidak setuju dan marah dengan usul putrinya itu. Beliau juga pernah mengembalikan kelebihan duit pengobatan beliau ke negara. Untuk mengatasi keuangannya pada saat sulit, beliau lebih suka mengirimkan tulisan ke penerbit pada waktu itu. 

Keduanya masih terlihat tetap menjalin persahabatan yang harmonis dalam hubungan pribadi.Bahkan di saat kejatuhan kekuasaan Bung Karno, Bung Hatta sempat sangat gelisah dengan kondisi kritis Bung Karno saat itu, kemudian menulis surat kepada Presiden berkuasa Soeharto untuk diperbolehkan menjenguk sahabatnya itu. Bung Hatta yang datang dan menghibur Bung Karno di saat itu. Keesokan hari setelah didatangi Bung Hatta, Bung Karno meninggal dunia. Tampaknya Bung Karno sangat menunggu kedatangan sahabatnya ini sebelum meninggalkan dunia untuk selamanya pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta pada umur 69 tahun.

Bung Hatta, menyusul Bung Karno pada tanggal 14 Maret 1980 di Jakarta saat berusia 77 tahun. Sesuai dengan permintaan beliau yang ingin dimakamkan di tempat pemakaman umum, bersama rakyat. Kepergian beliau ke tempat perisitrahatan terakhir diantar oleh ribuan rakyat dan diiringi oleh do'a serta derai air mata dan ditangisi oleh rakyat Indonesia.

Semoga kisah hidup Bung Hatta ini bisa menjadi pengingat kita semua ketika memegang amanah sebagai seorang pemimpin. Teladan sikap sederhana, perjuangan dan amanahnya kepada rakyat Indonesia sangat patut untuk dicontoh.

Salam Sejarah,
VM Atmanegara

Sumber Tulisan:
Labels: Artikel, Blogger, Bung Hatta, Indonesia, Mohammad Hatta, Proklamator, Sejarah

Thanks for reading Mohammad Hatta: Pemimpin Sederhana. Please share...!

3 Comment for "Mohammad Hatta: Pemimpin Sederhana"

Hiks.. mewek bacanya.. makasih ya udah meringkas sejarahnya. Kalo sy buku sejarah mgkn ga selesai2 saking panjangnya

Sama-sama,, sejarah itu kalo dibaca lewat web dan ditonton via youtube lebih asik,,

wwuuuh merinding mas... para pemimpin bangsa.... semoga lhir sosok" rendh hati kayak bung hatta mas,... mantap dah...

Terima kasih atas kunjungan Agan dan Sista.
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.
[VM Atmanegara]

Back To Top