BEKERJA DENGAN "RASA" - Sisi Lain Young Engineer BEKERJA DENGAN "RASA"

BEKERJA DENGAN "RASA"

For your information aja ya teman-teman, artikel ini muncul gara-gara komentar para juri Ind*nesia Id*l, terutama Bunda Maia dan BCL yang sering banget ngomong "Menyanyi pake Rasa". Thank you so much buat inspirasinya. Kali ini saya mau arahin statement viral tersebut ke dunia kerja pada umumnya dan menceritakan sedikit pengalaman kerja saya pada khususnya.

#Titip salam ya gan buat mereka
#Percuma bro, ga akan diterima
#Ya usaha dulu kek bro
#Ya, kalo inget yaa
#Yowes, bye

Kalau sebelumnya saya pernah ambil topik "Bekerja Lillahi Ta'ala". Hal yang merupakan dasar dari hati yang membuat pekerjaan menjadi bernilai pahala. Nah, untuk melanjutkannya saya ingin mencoba sharing opini mengenai eksekusi dalam rutinitasnya, yaitu "Bekerja dengan Rasa". 

#Itu artikel dulu yang potonya elu gede banget yah gan
#Masih inget aja gan?
#Iya donk, paling nyampah gitu
#Tapi kok inget gitu?
#Ya, musibah pasti membekas lah bro
#Coeg

Kembali lagi mengambil analogi "Rasa" pada saat seseorang bernyanyi, untuk dapat mencapai tahap itu, tentunya hal pertama yang dilakukan penyanyi adalah memahami arti dari untaian lirik lagu, menempatkan diri dalam suasana lirik lagu, mengasah nada dengan tepat untuk mengekspresikan makna yang tersirat pada lirik lagu, kemudian memilih juga ekspresi wajah dan anggota tubuh untuk menggambarkannya. Serangkaian proses tersebut adalah untuk siap mengeksekusinya menjadi keterpaduan penampilan bernyanyi yang menawan.

Sama halnya dengan bekerja, Bekerja dengan Rasa, tentunya harus tahu terlebih dahulu jenis pekerjaan yang sedang dijalani, mengerti secara detail job description, peraturan yang berlaku dan etika atau nilai-nilai yang mungkin dituntut secara khusus dalam suatu pekerjaan. Selain itu juga mengerti posisi, porsi dan interaksi yang harus dijalankan dalam pekerjaan. Untuk mempermudah, saya mau ambil contoh ketika saya bekerja sebagai Internal Auditor Staf di salah satu perusahaan swasta.

#Maen aman banget ya, gan, bahas yang udah berlalu
#Ya dink, biar ga ada sentimen
#Oh iya juga,, lanjut dah
#Okay, makasiiy

    abuathar.com
abuathar.com


Sumber Gambar
http://kupang.tribunnews.com/2017/10/30/malas-bekerja-setelah-liburan-5-tips-ini-buat-seninmu-semangat-dan-lebih-menyenangkan-yuk-coba
https://www.herworld.co.id/article/2017/6/7588-Tips-Menahan-Rasa-Lapar-Puasa-Saat-Bekerja-di-Kantor

Jika saya uraikan tahapan yang saya pernah lakukan sebagai berikut:

1. Memahami Jenis Tugas atau Fungsi Pekerjaan
Dalam memahami jenis pekerjaan, saya mendapatkannya dari referensi buku, media cetak, media online, dan sharing dengan teman-teman (networking) mengenai tugas, fungsi dan job description seorang Internal Auditor dalam sebuah perusahaan. Dalam hal ini saya akui bagi saya cukup kewalahan, karena pekerjaan pertama saya ini agak jauh menyimpang dari disiplin ilmu yang saya ambil waktu kuliah, yaitu Teknik Mesin. Namun, semua itu mencapai titik leburnya berkurang saat ada seorang teman yang meng-analogikan pekerjaan ini dengan istilah KPK-nya perusahaan. Tahapan ini lebih saya maknai sebagai persiapan mental menanggung fungsi kerja.

2. Memahami Jenis Usaha Perusahaan
Lebih dalam lagi, saya meninjau jenis usaha yang dijalankan di perusahaan saya. Kebetulan saat itu adalah perusahaan Agribisnis yang spesifik pada tanaman kelapa sawit sebagai komoditi utama, selain itu ada juga tanaman karet, tanaman tebu, dan beberapa komoditi lainnya. Unit usahanya mencakup perkebunan dan pabrik pengolahannya. Hal ini tentunya tersedia sangat banyak sekali di buku-buku dan internet. Terlebih lagi disediakan training oleh perusahaan untuk perkenalan mengenai unit usahanya dari hulu hingga hilir. Bersyukur sekali . Tahapan ini dapat disebut fundamental knowledge.

3. Mempelajari Budaya Kerja
Masing-masing tempat kerja pastinya memiliki budaya kerja tersendiri. Kalau di tempat bekerja saya saat itu, budaya kerjanya terbagi dua segmen, yaitu kerja kantor dan kerja kunjungan. Ya, sebagai seorang auditor, konsekuensi yang saya tanggung adalah bekerja lebih banyak di luar kota daripada di kota domisili, yang terkadang perbandingannya 3 minggu:1 minggu per bulan. 

Kerja kantor biasanya dilalui sesuai jam kerja, masuk jam 08.00 pulang jam 17.00 (kalau tidak salah ya, gan). Dan biasanya dilakukan untuk persiapan audit/pre-audit, yaitu mempersiapkan guidance, data, peralatan, surat dinas dan lain-lain. Selain itu juga digunakan untuk pasca audit, yaitu finalisasi pembuatan laporan.

Sedangkan kerja kunjungan lebih lumayan pressure-nya, karena harus sesuai atau mendekati planning/rancangan waktu, jika tidak akan menyebabkan pergeseran waktu rencana kunjungan berikutnya. Di dalam kerja kunjungan, dituntut kemampuan cepat dalam analisa dan mengukur tingkatan permasalahan yang ditemukan. Selain itu, diberikan kebebasan untuk improvisasi yang positif dan tidak menyalahi aturan jika diperlukan untuk menemukan fakta dan data pendukung secara cepat. Jam kerjanya mungkin bisa dibilang tidak terikat, bisa jadi subuh atau malam terpakai untuk persiapan berangkat kerja, perjalanan, melakukan pekerjaan atau membuat laporan. Selain itu, juga sudah harus siap berinteraksi dengan pekerja di unit bisnis yang didatangi, baik itu interaksi wajar atau tidak wajar. Kerja kunjungan ini tentu lebih banyak tantangannya dibandingkan kerja kantor. Dibalik tantangan itu, berita baiknya adalah keberangkatan kunjungan dalam bentuk tim, jadi sudah jelas pembagian kerjanya, dan tidak sendirian menjalani kehidupan nomaden tersebut. Namun, disinilah "Rasa" pekerjaan itu diasah. Bolehlah kita anggap tahapan ini tahap mengasah "Rasa".

4. Memahami Etika/Aturan Kerja
Setiap fungsi kerja secara umum tentu dituntut untuk mematuhi peraturan perusahaan dan ketenagakerjaan yang berlaku, selain itu juga mungkin diajak untuk menerapkan nilai-nilai perusahaan yang dijadikan simbol. Sebagai internal audit, selain hal yang umum, saya juga dituntut untuk memiliki sikap independen, objektif, dan jujur. Independen dalam arti tidak boleh berkompromi dengan pihak manapun untuk menyembunyikan, mengurangi, menambahkan atau mengada-ada fakta atau data pemeriksaan.  Objektif yang berarti penilaian benar berdasarkan hasil kerja yang didapatkan dari data dan fakta yang ada dan mampu dipertanggungjawabkan, bukan hasil sentimen ke salah seorang atau kelompok. Dan kejujuran adalah modal utama untuk menjadi auditor, karena jika kejujuran tidak ada, otomatis akan berpotensi menciderai proses maupun pelaporan audit itu sendiri. Tahapan ini dapat dikatakan sebagai tahap memupuk kedisplinan dan attitude bekerja.

5. Selalu Meningkatkan Kemampuan Diri
Banyak orang bilang keluarlah dari zona nyaman. Kalau saya menyebutkan dengan istilah meningkatkan kemampuan diri (developing) dengan tetap membuat diri merasa nyaman. Kenyaman bagi saya tidak untuk ditinggalkan, namun untuk selalu dihadirkan dalam keadaan apapun. Saya misalkan dengan jobdesk saya saat itu, yaitu lebih sering melakukan pemeriksaan pada operasional pabrik, aset, inventory dan shipment. Sebagai upaya pengembangan diri, saya dengan gigih juga mempelajari cara pemeriksaan transaksi keuangan dan operasional perkebunan. Hal ini tentunya akan menjadi nilai tambah atau setidaknya persiapan bagi diri sendiri untuk mencapai setingkat lebih tinggi. Intinya jangan pernah takut gagal. Sekali menyerah pada ilmu akan membuat seseorang tenggelam dalam ketidaktahuan seumur hidup. Nah, tahapan terakhir inilah yang akan menjadi ciri khas dari masing-masing personal. Apakah dia tipikal yang melow atau tipikal yang rocker abis.

#Lah, balik ke nyanyi lagi
#Hahaha,, ga tau keenakan analogi apa panggilan jiwa sii ini gan
#Udah, lu jadi penyanyi aja sana
#Jangan gan, belum siap jadi artis

Semoga beberapa hal yang saya berikan ini bisa dijadikan referensi dalam mengasah "Rasa" dalam bekerja. Saya mohon maaf, jika pendekatan yang saya sampaikan belum bisa mewakili semua jenis pekerjaan. Hal ini semata-mata hanya niat positif untuk berbagi pengalaman kerja. 

Hidup Buruh Indonesia,
Abi Atharauf

Labels: Artikel, Coretanku, Kerja, Motivasi

Thanks for reading BEKERJA DENGAN "RASA". Please share...!

4 Comment for "BEKERJA DENGAN "RASA""

Jarang nonton indonesia idol, ternyata inspirasinya dari komen bcl dan maia estianty..memahami bisnis perusahaan emnk penting bngat biar lbh memahami tugas dan fungsi kita

Nonton donk gan,, bnyak lucunya sekarang..

Bekerja memang harus dengan rasa, jika tidak kita akan terus menggerutu dan kerja tidak maksimal
setidaknya kita coba mencintai pekerjaan kita dahulu, maka seberat apapun pekerjaan kita akan terasa nikmat dan rasa syukur yg hadir.

Terima kasih atas kunjungan Agan dan Sista.
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.
[VM Atmanegara]

Back To Top