YANG BERAT ITU BUKAN RINDU, TAPI SAKARATUL MAUT - Sisi Lain Young Engineer YANG BERAT ITU BUKAN RINDU, TAPI SAKARATUL MAUT

YANG BERAT ITU BUKAN RINDU, TAPI SAKARATUL MAUT

Saat ini, semua orang sedang terlena dengan kalimat "Jangan Rindu, itu berat, biar aku saja". Kalimat yang sedang viral di kalangan kids jaman now merupakan potongan dialog yang diambil dari salah satu film layar lebar. Tapi kali ini, saya tidak ingin membahas film itu. Saya lebih tersentuh  untuk menceritakan tentang kiriman image oleh salah seorang teman whatsapp menyindir kalimat viral tersebut. Berikut image-nya:

abuathar.com


Ya, dahsyat kan kata-katanya?. Terus terang, saya tersentak dan kembali teringat kisah akhir hayat Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam.

Di suatu khutbah yang tidak disangka akan menjadi khutbah terakhirnya, Rasulullah menyampaikan, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taatilah dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Quran dan Sunnah. Barang siapa yang mencintai sunnah, berarti mencintaiku, dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk syurga bersamaku".

Di akhir khutbah, Rasulullah memandang satu per satu ke arah para sahabat. Abu Bakar matanya berkaca-kaca, Umar terlihat menahan nafas dan tangisnya, Utsman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya. Para sahabat tahu bahwa isyarat itu adalah pertanda Rasulullah akan pergi meninggalkan dunia.

Singkat cerita, melihat kondisi Rasulullah yang lemah, beliau dibawa ke rumahnya. Dalam kondisi terbaring lemah di rumahnya. Seorang tamu yang tidak dikenali menghampiri Rasulullah, mengucapkan salam dan memita izin masuk dari luar rumah, namun ditolak oleh Fatimah. Saat Fatimah kembali kepada Rasulullah, beliau bertanya "Siapa itu wahai anakku". Fatimah menjawab tidak tahu karena menurutnya seperti orang baru yang belum dikenalinya. Kemudian Rasulullah memberitahu Fatimah "Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, dialah malaikatul maut". Fatimah pun tak kuasa menahan tangisnya mendengar penjelasan Rasulullah tersebut.

Malaikat maut pun akhirnya diizinkan menghampiri Rasulullah, namun beliau menanyakan kenapa Jibril tidak ikut. Kemudian Jibril dipanggil dan dengan segera mendatangi Rasulullah karena sudah bersiap-siap di langit. Rasulullah bertanya kepada malaikat Jibril "Wahai Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?. Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu dan semua syurga telah terbuka lebar menanti kedatanganmu.", ucap Jibril. Jawaban itu tidak cukup membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?, tanya Jibril. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak", tanya Rasulullah lagi. "Jangan kawatir wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman 'Kuharamkan  syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya", ucap Jibril.

Malaikat Izrail kemudian melakukan tugasnya, perlahan ruh Rasulullah ditarik. Seluruh tubuh Rasulullah penuh dengan peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini". Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah memejamkan mata, Ali yang disampingnya menundukkan kepalanya dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah engkau melihatku wahai Jibril", tanya Rasulullah. "Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah direnggut ajal", ucap Jibril. Kemudian terdengar Rasululah mengaduh karena sakit yang tidak tertahankan lagi, kemudian berdoa "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa sakaratul maut ini kepadaku, jangan kepada umatku". Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali kemudian mendekatkan telinganya "Uushiikum bis-shalati, wa maa malakat aimaanukum" (artinya;"peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu"). 

Tangis bersahutan mulai terdengar dari arah luar. Fatimah menutupkan tangan ke wajahnya dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke arah bibir Rasulullah yang mulai membiru. "Ummati, ummati, ummati" (artinya:"Umatku, umatku, umatku"). Dan innalillahi wa inna ilaihi rajiun, berakhirlah hidup Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wassalam, sang kekasih Allah.

Dapat diambil pelajaran dari kisah di atas bahwasanya betapa cintanya rasulullah kepada umatnya , pertama pada pertanyaan beliau kepada malaikat Jibril sebelum nyawanya dicabut oleh malaikat Izrail, "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah", tanya Rasulullah Kemudian malaikat Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu, semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu". Namun, wajah Rasulullah masih terlihat murung, lalu jibril bertanya, "Engkau tidak bahagia mendengar kabar ini". Kemudian Rasul melontarkan pertanyaan kembali, "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak". "Jangan khawatir wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: Kuharamakan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya", terang Malaikat Jibril yang kemudian cukup menenangkan.

Kedua, saat malaikat Izrail menunaikan tugasnya, Nabi Muhammad berdoa di  "Ya Allah, dahsyat sekali sakaratul maut ini, timpakan saja semua sakitnya kepadaku, jangan pada umatku."

Ketiga, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Nabi Muhammad sempat mengucapkan "Umatku, umatku, umatku"

Ini mungkin pesan yang ingin teman saya sampaikan, menyadari betapa kasih dan sayangnya Rasul kepada umatnya, berkat doa beliau, sampai kapanpun tidak ada seorang umat Rasullullah yang mengalami betapa beratnya sakaratul maut yang sesungguhnya, melainkan telah diringankan sakitnya karena doa beliau. Begitu gambaran betapa cintanya Rasulullah kepada umatnya.

Salam Ukhuwah,
Abi Atharauf

Sumber bacaan: 
mozaik.inilah.com/read/detail/2240075/detik-detik-akhir-hayat-rasulullah-saw
https://hatta16.wordpress.com/2008/09/21/akhir-hayat-rasulullah-muhammad-saw/
https://www.facebook.com/notes/タ-オ-ル/...akhir-hayat.../10152096947162073/
https://blog.al-habib.info/id/2011/02/episode-cinta-di-akhir-hayat-nabi-muhammad/

Labels: Artikel, Islami

Thanks for reading YANG BERAT ITU BUKAN RINDU, TAPI SAKARATUL MAUT. Please share...!

0 Comment for "YANG BERAT ITU BUKAN RINDU, TAPI SAKARATUL MAUT"

Terima kasih atas kunjungan Agan dan Sista.
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.
[VM Atmanegara]

Back To Top