TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW" - Sisi Lain Young Engineer TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW"

TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW"

Dalam pembentukan kecerdasan dan karakter anak, orangtua tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orangtua memiliki keharusan dalam mengevaluasi dan melengkapi pendidikan anaknya. Jika di sekolah, terdapat pelajaran yang dinilai kurang tepat, diberikan oleh guru kepada anak, maka orangtua dapat menghubungi pihak sekolah untuk mendapatkan klarifikasi, memberi masukan dan mencari solusi. Jika pemahaman atau persepsi anak kurang sesuai dengan yang diterangkan guru di sekolah, maka orangtua harus meluruskan pemahaman anaknya. Orangtua juga harus melengkapi pelajaran bagi anaknya, jika mungkin terdapat pelajaran yang tidak diberikan di sekolah untuk memenuhi tiga unsur kecerdasan, yaitu Kecerdasan Intelektual/IQ (Intelligence Quotient), Kecerdasan Emosional/EQ (Emotional Quotient), dan Kecerdasan Spiritual/SQ (Spritual Quotient). 


abuathar.com
Gambar: https://afifbenzumaen.com
Perkembangan teknologi informasi juga merupakan tantangan tersendiri bagi orangtua saat ini, akses internet, media sosial dan game online yang begitu mudah didapatkan dapat mempengaruhi kecerdasan dan karakter anak. Ketegasan orangtua dalam membatasi dan mengarahkan anak dalam mengakses internet, media sosial dan game online sangat diperlukan, karena sudah banyak sekali contoh jeratan negatif dari perkembangan teknologi informasi tersebut. Jangankan anak pada usia pendidikan. Orang dewasa pun, secara pemikiran bisa ikut terbawa dalam pengaruh negatifnya.

Menurut penulis, ada empat sisi peranan orangtua dalam membentuk kecerdasan dan karakter anak. Keempat sisi ini diajarkan secara bersamaan kepada anak dalam usia pendidikannya. Konsepnya "mengalir dan terbiasa". Mengalir dalam arti, cara belajarnya dimasukkan ke dalam aktivitas sehari-hari sehingga dapat dijalankan tanpa beban. Terbiasa dalam arti, secara tidak sadar, pelajaran yang diberikan kepada anak melekat ke dalam dirinya melalui pola pikir, ucapan dan tindakannya.

1. Sisi Takwa

Para Founding Father dalam merumuskan dasar negara, Pancasila, merumuskan prinsip "Ketuhanan yang Maha Esa" sebagai sila pertama. Pentingnya pendidikan agama sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara menjadi cerminan harapan para Bapak Bangsa. Pendidikan agama dapat membentuk ketakwaan dalam diri. Sisi ketakwaan memiliki kandungan yang seluruhnya positif dalam membangun bangsa dan negara, karena penekanannya adalah wujud tanggung jawab seorang manusia kepada Tuhannya. Peranan keluarga dalam membentuk ketakwaan dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan agama secara langsung atau mendampingi anak mengikuti pendidikan agama di lingkungannya, seperti kegiatan mengaji di masjid (Islam), kebaktian di gereja (Kristiani), belajar agama di pura (Hindu), wihara (Budha) dan klenteng (Konghucu). Selain itu, orangtua memiliki kewajiban memberikan teladan kepada anak dalam bentuk perbuatan di kehidupan sehari-hari. 


abuathar.com
Gambar: http://www.republika.co.id

2. Sisi "Indonesia"

Dalam dunia internasional dikenal istilah nasionalisme, yaitu sebuah sikap loyalitas dalam mempertahankan kedaulatan suatu negara. Sebagai bangsa Indonesia, rasa cinta terhadap tanah air dibutuhkan untuk merawat dan melindungi negara Indonesia dari segala bahaya yang mengancam. Peran orangtua dalam menjadikan anaknya cinta terhadap tanah air dapat dilakukan dengan memperkenalkan budaya dan sejarah Indonesia. Perkembangan teknologi informasi dapat diambil sisi positifnya dalam hal ini. Di internet tersedia banyak sekali artikel, poto dan video tentang budaya dan sejarah Indonesia. Atau jika ingin mengurangi ketergantungan anak pada gadget, orangtua dapat mengajak anak berjalan-jalan ke toko buku, museum, dan tempat wisata budaya atau sejarah.


abuathar.com
Sumber: https://satelitpost.com

3. Sisi Sosial

Tantangan terberat lainnya di era kemajuan teknologi dan informasi ini, konsep manusia sebagai makhluk sosial mulai tergerus dan berubah menjadi konsep manusia individualis. Orang-orang cenderung suka berteman di dunia maya dibandingkan berusaha mengenali tetangga sebelah rumahnya. Peranan orangtua dapat dilakukan dengan contoh perbuatan sederhana, namun memiliki efek yang sangat kuat bagi anak. Sebagai contohnya mengajari anak bersilaturahmi ke tetangga, membuka diri untuk menjadikan rumah sebagai tempat bermain anak dan teman-temannya, dan mengajak anak untuk ikut kegiatan sosial di lingkungan. Kegiatan sosial yang sederhana saja seperti gotong royong dan bakti sosial.


abuathar.com
Sumber: https://kompas.id

4. Sisi Berprestasi

Orangtua pasti senang jika anaknya memiliki prestasi yang cemerlang. Namun, sebenarnya orangtua memiliki peranan dalam mendorong anak berprestasi sesuai minat dan bakat keilmuan dan keterampilannya. Orangtua harus berkomunikasi dengan anak perihal minat dan bakatnya, kemudian memberikan dukungan moril dan fasilitas kepada anak dalam mengembangkan minat dan bakatnya. Dorongan motivasi juga harus diberikan kepada anak dengan kelembutan kata untuk meningkatkan kepercayaan diri anak.


abuathar.com
Sumber: http://karyakisah.blogspot.com

Bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga memang penting. Tapi, peranan orangtua jika dibandingkan dengan guru di sekolah bisa jadi lebih banyak porsinya dalam menentukan kecerdasan dan karakter anak. Untuk itu, orangtua harus menangkap dan menjawab tantangan peranan ini. Tidak ada salahnya meluangkan perhatian dan memberikan pendampingan kepada anak, sebelum dan sepulang kerja, di sela-sela waktu istirahat atau di hari libur. 

Beberapa sekolah juga telah membuka peluang bagi orangtua untuk mendampingi anak dalam penyelenggaraan pendidikan, menurut informasi yang saya dapatkan dari Sahabat Keluarga - Kemendibud, di SMA N 4 Pekanbaru, Provinsi Riau telah dibuat konsep mengundang orangtua untuk ikut dalam kegiatan upacara bendera dan menyaksikan penampilan bakat anak-anaknya. Suatu hal yang terlihat sederhana, namun memiliki efek yang sangat besar dalam perkembangan kecerdasan dan karakter anak. Salut.

#sahabatkeluarga
#CerdasBerkarakter

Salam Pendidikan,
Abu Athar


Labels: Artikel, Pendidikan

Thanks for reading TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW". Please share...!

21 Comment for "TANTANGAN ORANGTUA "JAMAN NOW""

Sebenernya nggak usah takut anak kecanduan gadget,asal orangtuanya nggak ngajarin bahwa main gadget itu menyenangkan. Anak saya nggak pernah saya kenalkan pada gadget,temen2nya main gadget dia bodo amat lari2an

Orangtuanya jg suka gadget,, gmana donks,, hahaha

sekarang lebih haruswaspada krn pengaruh lingkungan dan medsoso begitu besar shg peran ortu harus benar2 kuat

tetep salah orangtuanya, ngapa yak orangtua nggak pernah mau disalahin -__-;

Pendidikan anak meliputi...hubungan manusia dan Tuhan..dan hubungannya dengan manusia.., serta pendidikan kecerdasan untuk survive...pendidikan karakter juga...

Duh..banyak pe er jadi org tua ..

iya dong, bagaimana pun masalah pendidikan anak itu tanggung jawab ortu ya. sekolah dan yang lainnya adalah pihak yang membantu kita menjalankan kewajiban tsb

Semua harus seimbang ya pak, Ini bisa jd referensi nanti kalo saya jd bapak hehe

Sepakat bgt nih, duh ya.. Kenapa malah pengin jd orang tua yak, wkwkwk

Jd orgtua ada nikmat tersendiri koo,, heheh

Istilahnya katalisator atau alat bantu utk mempercepat motivasi anak dlm belajar

Iyaa,, kapan nih Agan mau jd bapak?

Semua akan tua pada waktunya,, wkwkwk

Ternyata ada sisi "indonesia" juga

Baguslah kalau orang tua juga bisa berperan aktif dengan pendidikan anak. :)

Wah, berarti kayak sekolah di Jepang dong, di mana orangtua murid di undang untuk menyaksikan penampilan bakat anaknya? Kalau prosesnya berjalan lancar, semoga aja ke depannya semua sekolah menuruti sistem ini :)

Smga sistem pendidikan di Indonesia semakin maju dan terus maju

Terus semangat menjadi orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak :)

Terima kasih atas kunjungan Agan dan Sista.
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun.
[VM Atmanegara]

Back To Top